Di rak buku saya, tersusun rapi sekitar lima puluh keping UMD dalam kotak plastik transparannya. Masing-masing rajatogel memiliki goresan di sana-sini, stiker harga dari toko game bekas, dan bau khas plastik yang memabukkan. Saya mengambil satu, “Final Fantasy VII: Crisis Core”, memasukkan ke dalam PSP yang sudah menguning di sudut-sudutnya. Klik. Deru mekanik membaca disc. Layar menyala. Logo PlayStation Portable muncul diikuti animasi khasnya. Dan untuk sesaat, saya kembali ke tahun 2007, kembali ke masa ketika media fisik adalah satu-satunya cara memiliki game.
Tahun 2026, konsep “memiliki game” telah berubah drastis. Generasi baru tumbuh dengan langganan Game Pass, PlayStation Plus, dan layanan cloud streaming. Mereka tidak pernah merasakan sensasi membawa pulang kotak game baru dari toko, membuka plastik segelnya dengan hati-hati, mencium bau buku manual yang baru dicetak, dan memasukkan disc ke konsol untuk pertama kalinya. Bagi mereka, game adalah layanan, bukan benda. Dan mungkin mereka tidak kehilangan apa-apa. Tapi bagi saya, ada sesuatu yang suci dalam ritual memiliki media fisik yang tidak pernah bisa digantikan oleh unduhan digital.
UMD, format canggih milik Sony yang hanya bertahan satu generasi, adalah simbol dari era transisi ini. Ia kecil, portabel, tetapi juga rapuh dan boros baterai. Banyak yang mengkritiknya, dan tidak sepenuhnya salah. Namun di balik kekurangannya, UMD menyimpan keajaiban: ia adalah bukti fisik bahwa dunia game PSP itu nyata. Bahwa petualangan Zack Fair, LocoRoco yang menggemaskan, dan pertempuran sengit Monster Hunter tidak hanya ada di awan digital, tetapi terukir secara magnetis di piringan plastik yang bisa saya sentuh.
Saya ingat pertama kali membeli UMD bekas di toko game Mangga Dua. Toko itu kecil, pengap, dan penuh sesak dengan rak-rak berisi game dari berbagai generasi. Saya menghabiskan berjam-jam membolak-balik kotak, membaca sinopsis di belakang, memeriksa kondisi disc. Ketika menemukan game langka dengan harga miring, ada euforia yang sulit dijelaskan. Rasanya seperti pemburu harta karun yang menemukan emas. Pengalaman ini tidak mungkin direplikasi di toko digital mana pun, dengan algoritma rekomendasi secanggih apa pun.
Koleksi UMD saya adalah arsip pribadi, kapsul waktu yang membawa saya kembali ke berbagai fase kehidupan. “Daxter” mengingatkan saya pada liburan ke rumah nenek, di mana saya memainkannya sepanjang perjalanan kereta. “Monster Hunter Freedom 2” mengingatkan pada masa SMA, ketika saya dan teman-teman melakukan “hunting” bersama di kantin sekolah, menghubungkan PSP via koneksi ad hoc. “Patapon” mengingatkan pada malam-malam suntuk di kosan, ketika irama “Pata-Pata-Pon” menjadi soundtrack kehidupan mahasiswa. Setiap goresan di disc, setiap stiker toko bekas, adalah bagian dari sejarah pribadi saya.
Tahun 2026, toko-toko game fisik semakin langka. Mangga Dua masih ada, tetapi rak-rak UMD sudah digantikan oleh aksesori ponsel dan power bank. Jika saya ingin menambah koleksi, saya harus mencari di forum-forum jual beli online, bersaing dengan kolektor lain yang sama gilanya. Harga game-game langka melambung tinggi, tidak lagi terjangkau oleh kantong biasa. Pasar barang antik mulai melirik UMD sebagai benda koleksi, dengan beberapa judil langka terjual hingga jutaan rupiah.